Tabloid Gadget – Di era digital 2025, media sosial terus berevolusi dan membentuk cara kita berinteraksi sehari-hari. Generasi muda seperti Gen Z semakin mendominasi tren dengan konten video pendek, sementara kelompok usia lebih tua tetap setia pada platform klasik untuk menjaga hubungan. Survei terbaru dari Sprout Social dan GWI menunjukkan peningkatan penggunaan secara keseluruhan, di mana lebih dari 80% orang dewasa mengakses setidaknya satu platform setiap hari. Namun, preferensi ini bervariasi tajam antar generasi, mencerminkan nilai dan kebiasaan unik masing-masing kelompok.
Kini, topik “Media Sosial yang Digemari Gen Z, Milenial hingga Baby Boomers” menjadi sorotan utama karena pergeseran ini memengaruhi strategi pemasaran dan komunikasi. Selain itu, dengan munculnya fitur AI dan Threads yang tumbuh pesat, pengguna semakin mencari pengalaman autentik. Oleh karena itu, memahami perbedaan ini membantu kita navigasi dunia online lebih efektif.
Preferensi Generasi Muda: Gen Z Pimpin Tren
Gen Z, yang lahir antara 1997-2012, aktif membentuk landscape media sosial dengan fokus pada kreativitas dan kecepatan.
TikTok dan Instagram Dominasi Gen Z
Gen Z menghabiskan rata-rata 3 jam per hari di media sosial, dan TikTok menjadi favorit utama mereka. Platform ini menarik 69% pengguna Gen Z berkat video pendek yang menghibur dan personal. Selain itu, Instagram mengikuti erat dengan 76% penggunaan, di mana mereka menemukan produk baru melalui Reels dan Stories. YouTube juga populer di kalangan ini, mencapai 78%, terutama untuk konten edukasi dan hiburan panjang. Namun, Snapchat tetap relevan untuk 43% dari mereka, ideal untuk berbagi momen instan dengan teman dekat.
Sementara itu, Gen Z mulai menjauhi Facebook, yang hanya menarik 53% kunjungan dalam tiga bulan terakhir. Mereka lebih suka platform dinamis yang mendukung ekspresi diri. Oleh karena itu, merek seperti Maybelline sukses besar di TikTok dengan konten AI yang viral, membuktikan potensi besar untuk engagement.
Mengapa Gen Z Pilih Platform Ini?
Alasan utama Gen Z memilih TikTok dan Instagram adalah kemampuan personalisasi algoritma. Selanjutnya, fitur seperti duet dan filter mendorong kreativitas mereka. Bahkan, survei Later menunjukkan 82% Gen Z punya akun TikTok, menjadikannya alat utama untuk menemukan tren fashion, musik, dan berita. Di sisi lain, mereka skeptis terhadap konten korporat, sehingga konten autentik lebih disukai.
Transisi ke Generasi Tengah: Milenial Seimbang dan Adaptif
Milenial, lahir 1981-1996, menjembatani antara inovasi dan kestabilan dalam penggunaan media sosial.
Mereka paling aktif secara keseluruhan, dengan 69,2% menggunakan platform setiap hari. Facebook tetap favorit, tapi Instagram memimpin dengan 60% pengguna di bawah 35 tahun. Selain itu, TikTok menarik 36% untuk pembelian langsung, sementara YouTube digunakan untuk riset mendalam. LinkedIn juga tumbuh di kalangan milenial, mencapai mayoritas pengguna, ideal untuk jaringan profesional.
Facebook vs. TikTok untuk Milenial
Facebook mendominasi milenial untuk layanan pelanggan dan koneksi keluarga. Namun, mereka beralih ke TikTok untuk hiburan, di mana waktu rata-rata mencapai 47 menit per hari. Oleh karena itu, platform ini menjadi kanal utama untuk discovery brand, dengan 35% milenial lebih suka mencari info di sini daripada mesin pencari tradisional. Pinterest pun bangkit kembali, menarik milenial dengan ide visual untuk rumah dan gaya hidup.
Di tambah lagi, Threads tumbuh cepat di generasi ini, menawarkan diskusi mendalam tanpa iklan berlebih. Akibatnya, milenial semakin diversifikasi pilihan mereka, mencampur hiburan dengan produktivitas.
Generasi Tua Tetap Setia: Baby Boomers dan Gen X
Baby boomers dan Gen X menunjukkan pola yang lebih konservatif, tapi tetap aktif di media sosial.
Facebook Jadi Andalan Baby Boomers
Baby boomers, lahir 1946-1964, menggunakan Facebook hingga 83% untuk terhubung dengan keluarga dan teman. YouTube mengikuti sebagai favorit kedua, terutama untuk video tutorial. Selain itu, 28% menggunakan WhatsApp untuk pesan instan. Mereka melihat media sosial sebagai alat positif, dengan 83,9% merasa hidup lebih baik karenanya. Namun, TikTok hanya menarik 16%, meski naik 60% dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, Gen X (1965-1980) mirip, dengan 81% mengunjungi Facebook baru-baru ini. Mereka juga aktif di YouTube (65%) dan Instagram (47%), tapi lebih fokus pada e-commerce autentik. Oleh karena itu, merek harus prioritaskan konten sederhana dan terpercaya untuk generasi ini.
Tantangan dan Peluang untuk Generasi Tua
Meskipun lambat mengadopsi tren baru, baby boomers semakin terbuka terhadap AI di platform seperti Facebook. Selanjutnya, Gen X menghargai autentisitas, dengan 85% memilih brand berdasarkan itu. Akibatnya, strategi pemasaran harus menekankan nilai komunitas daripada gimmick visual.
Secara keseluruhan, tren 2025 menunjukkan media sosial semakin terfragmentasi antar generasi. Media sosial yang digemari Gen Z mendorong inovasi dengan TikTok, milenial menyeimbangkan semuanya, sementara baby boomers tetap di zona nyaman Facebook. Namun, platform seperti Threads dan YouTube menyatukan semua, menawarkan peluang lintas generasi. Oleh karena itu, bisnis harus adaptasi cepat untuk tetap relevan. Di masa depan, integrasi AI dan privasi akan semakin memengaruhi pilihan ini. Jadi, apa platform favorit Anda? Bagikan di komentar!